Seminggu yang lalu, untuk terakhir kalinya...aku ketemuan sama dia. Seseorang dari masa laluku yang dulu pernah jadi bagian dalam hidupku. Tak seberapa lama aku bersua dengannya. Bagiku, tak lebih dari sekedar mmemberikan bingkisan kecil di H-1 pernikahannya. Tapi entah bagi dia... Mungkin dia masih berharap di pertemuan terakhir itu aku masih berkenan mengucapkan kata2 yang diharapkannya...
Seminggu yang lalu...dia duduk di depan penghulu, mengucapkan sebuah ikrar "saya terima nikahnya...dengan mas kawin...dibayar tunai". Sebuah ikrar atas nama Allah. Terlintas dalam pikirku, bagaimana jika namaku yang mengisi titik-titik itu. Akankah aku bahagia bersamanya...??? Akankah dia bahagia bersamaku..??? Ahh...tak taulah... Yang aku harapkan, kini dia bahagia bersama pasangan jiwanya.
Seminggu yang lalu...aku menangis tanpa tau sebabnya. Ikhlas aku lepaskan dia, tapi jauh di lubuk hati ini ada rasa terkhianati, meski aku yang lebih dulu meninggalkan dia. Entahlah...
Setangkup do'a aku panjatkan untuk nya, agar dia selalu bahagia disana dengan kehidupan barunya. Seiring dengan laju kereta yang membawaku kembali ke kotaku, aku menangis... sebuah tangisan bahagia...
Dalam senja aku termenung, melangkahkan kembali kaki-kaki kecilku yang rapuh. Tertatih, menatap hari esok yang akan menghampiriku, menghimpun secercah asa. Dan disana, seseorang telah menantiku, dengan sepasang mata teduh, sebuah pelukan hangat, kasih sayang dan perhatiannya yang seolah tiada berbatas.
And life must go on....
Terkaget-kaget rasanya ketika aku dengar kabar bahwa mantan kekasihku akan menikah senin lusa. Berbagai rasa bercampur aduk di benakku.
Senang...karena akhirnya dia telah temukan pasangan jiwanya yang dia impikan. Yah...setelah sekian lama aku mengundurkan diri dari kehidupannya, kini dia mendapatkan seseorang yang pastinya jauh lebih baik dari aku. Siapa sih aku...hanya seorang gadis yang mungkin jauh dari kata sempurna.
Sedih...kenapa baru sekarang dia cerita kalo dia akan nikah, disaat pernikahannya kurang 1 minggu lagi. Atau mungkin aku yang harus sadar diri...siapa sih aku...apa hak aku untuk tau semua hal tentang dia. Masih mending dia mau cerita sama aku...meski mendadak. Juga sedih karena di hati kecilku merasa dikhianati karena dulu dia bilang bahwa cuma aku cewek satu-satunya yang dia cintai. Huhhhh....!!!
Lelah...dengan semua rayuannya yang dia katakan kepadaku, bahwa dia masih mencintaiku, bahwa dia belum bisa mencintai calon istrinya yang baru dikenalnya 3 bulan. Hellllooooo...dia seorang pria yang pernikahannya udah di depan mata. Bisa-bisanya dia masih meng-gombali aku, yang jelas-jelas cuma mantan!!!
Muak...dengan semua sifat childish dan keras kepalanya yang tidak berubah dari dulu hingga sekarang, bahkan disaat dia akan menikah. Semua sifat yang membuatku akhirnya mundur teratur dari kehidupannya. Aku sadar, sifat keras kepalaku tidak akan mungkin bisa bersanding dengan sifatnya yg juga sama kerasnya.
Yayaya...apapun perasaan yang berkecamuk di benakku, but life must go on... Aku percaya, suatu haripun aku akan mendapatkan sekeping hati, dan yang pasti jauh lebih baik dari dia.
Terbaik dari yang terbaik...
Mungkin aku perlu mengingat kembali kapan terakhir aku sedih dan merasa hancur. Entahlah...aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku menangis. Tapi hari ini, saat ini, aku hanya ingin menangis, meski tanpa air mata.
Aku merasa sendiri, tiada seorangpun yg bisa aku sandarkan bebanku, seolah tiada satupun tempat untuk ku tuju.
Mungkin hidup memang tak mudah untuk dijalani. Kadang kenyataan terasa menusuk ulu hati seakan aku tak dapat hidup lebih lama lagi. Seakan semua menjauhiku...
Entahlah... Aku hanya ingin menyendiri. Hanya untuk endapkan laraku sejenak...

