Hmmm..udah lumayan lama aku nggak cuap-cuap di blog ini. Perhatian teralihkan oleh pesbuk kali ya... Dan yang pasti disibukkan dengan persiapan pernikahan.
Hihihi...yah...kurang lebih 3 bulan lagi aku akan menikah, menuju sebuah gerbang kehidupan yang baru, yang pasti penuh kejutan2 tak terduga, baik yang menebar tawa bahagia maupun tangis. Semoga saja yang ada tawa bahagia. Kalopun ada tangis, moga aku bisa melewatinya, bersamanya...dengan pasangan jiwaku.
Sejauh ini semua berjalan dengan lancar. Booking rias manten, gedung, cathering, souvenir, undangan, dan segala keperluan persiapan pernikahan yang melelahkan tapi juga membahagiakan. Dulu aku bertanya2 seperti apa sih rasanya mau nikah...dan sekarang aku bisa berkata : "Oww...begini tha rasanya mau nikah..."
Begitu banyak perbedaan antara aku dan calon suamiku, mengingat kami berasal dari latar belakang profesi yang jauh berbeda. Swasta dan Negeri, dunia Pendidikan dan Media...sungguh dua dunia yang tidak ada titik temunya. Perlu waktu dan proses untuk saling memahami dua visi dan latar belakang yang berbeda ini. Tak perlu menyamakan perbedaan, karena perbedaan itu bukan untuk disamakan, tapi hanya perlu dijalankan dengan beriringan...dan perbedaan itu akan menjadi indah pada waktunya...
9 Bulan...mungkin waktu yang cukup singkat untuk proses perkenalan hingga ke jenjang pernikahan. Tapi aku percaya, waktu pacaran yang lama pun belum tentu berujung ke pernikahan. Dan aku percayakan hidupku padanya, seseorang yang telah mengisi hidupku 6 bulan terakhir ini. Lelakiku, dimana aku tercipta dari tulang rusuknya... Moga langkah ini tepat adanya...
Hmmm...indah rasanya ketika aku berjalan menuju pusara ibu bersama seseorang. Seseorang yang hampir mendekati sempurna di mata ibu dan memenuhi semua syarat yang ibu harapkan sebelum beliau meninggal. Semua syarat yang belum bisa aku penuhi ketika dulu ibu mengharapkan aku mewujudkannya. Tertunduk haru aku di kaki pusaranya, menghamburkan segala isak tangis yang tak dapat aku tahan lagi. Bukan tangisan kesedihan seperti yang dulu2, tapi sebuah tangisan lain, tangisan yang indah...
Aku tau, ibu berada disana, tersenyum memandangku. Andai saja aku dapat memeluknya, bersujud di kakinya, melihat beliau tersenyum dalam tangis harunya...mungkin kebahagiaan ini akan terasa lebih sempurna. Hanya saja, aku harus tetap berpihak pada kenyataan. Hanya doa yang bisa kuselipkan di sela isak tangisku.
Yah...aku kini memiliki kehidupan baru, orang-orang baru yang harus aku kenali, keluarga baru, bapak, ibu, mas, mbak, keponakan yang lucu2....dag dig dug rasanya ketika aku harus berhadapan dengan mereka. Ada ketakutan berkecamuk dalam hatiku. Jangan-jangan aku ditolak, jangan-jangan aku nggak direstui, jangan-jangan aku dicuekin, jangan-jangan...jangan-jangan...jangan-jangan...
Ahhh...itu hanya karena aku yang terlalu paranoid kali???!!! Nyatanya aku diterima dengan baik dan menyenangkan banget berada di tengah2 mereka. Alhamdulillah...lega rasanya.
Betapa indah hidup ini... Tapi selalu, tak ada yang sempurna di dunia. Selalu saja ada orang lain yang mengganggu, mengurangi keindahannya. Tapi tak mengapa, aku anggap itu sebagai ujian yang akan memper-erat hubungan ini. Akan aku jaga hati ini dari godaan-godaan itu. Kar'na aku telah temukan apa yang selama ini aku cari...
Sungguh, baru aku sadari kadang cinta memang tak harus butuh waktu lama untuk merasa "u are the one" ataupun hanya untuk menemukan apa yang selama ini aku cari. Mungkin benar, seseorang baru akan mengerti apa arti bahagia jika dia pernah merasakan sakit & sedih. Kadang geli rasanya mengingat perkenalan yang begitu singkat tapi menghasilkan sebuah komitmen yang lebih erat dari perkenalan yang berbulan-bulan bahkan hitungan tahun.
Ku pikir ini akan butuh waktu lama, ku pikir aku hanya akan jadi boneka mainan baginya, ku pikir ini hanya sesaat lalu menguap seiring berjalannya waktu. Bahkan aku nggak berani berharap terlalu banyak darinya, kar'na aku nggak mau terlalu kecewa nantinya, seperti yang sudah-sudah.
Tapi ternyata aku salah. Aku tau dia bukan perayu, bukan pujangga, bukan pengumbar kata-kata romantis, tapi cukup dengan bukti. Melindungiku dengan caranya sendiri, dan membuatku merasa nyaman saat bersamanya. Bisa aku rasakan keseriusannya. Bahkan selama ini tak pernah terpikirkan olehku untuk ber-"sarimbit" ria dengan siapapun. Tapi dia, dengan tiba-tiba, tanpa ku duga, mengajakku ber-sarimbit. Oh my God...meleleh aku dibuatnya!!! Hmmm...mungkinkah ini adalah hikmah dari sakitku kemarin....?
Aku dan dia, masing-masing memang bukan yang pertama. Tapi aku harap ini akan jadi yang terakhir dan menjadi bab penutup dalam jilid demi jilid novel hidupku.
Kepada sebuah hati, selamat datang di hidupku, menjadi bagian dalam perjalanan langkah kaki ini untuk mencari sebentuk hati, tuliskan sebuah kisah dalam lembar demi lembar diary kehidupan. Bukan tentang aku, bukan pula tentang kamu, tapi tentang kita, tentang cinta kita....
Waktunya bersenang-senang...happy happy, berlibur, menikmati deburan ombak yang berlomba di pantai, merayap berkecipuk ria di kakiku, seakan mengajakku bermain dan berkata "ayo, ke...ini waktunya menikmati kebebasanmu, bebas dari masalah-masalah yang membelenggumu, lupakan segala beban pikiranmu, teriaklah sepuasmu, tumpahkan segala galau yang ada, melebur dalam riuhnya angin dan hempasan gelombang pasang..."
Yah...lega rasanya bisa menikmati pantai, menghabiskan malam di jogja. Setelah semua masalah yang mendera hidupku, membuatku stres, hingga berujung "nginap" di PKU selama 2 hari. Huhh...betapa aku butuh refreshing...
Bukan salah siapa-siapa. Ga ada yang harus dipersalahkan atas sakitku. Entahlah, mungkin tubuh ini hanya ingin memberontak setelah tekanan demi tekanan yang aku rasakan, baik fisik maupun psikis. Baik pekerjaan maupun relationship. Tubuh ini hanya butuh refreshing, juga pikiranku. Aku benar-benar lelah atas apa yang terjadi pada hidupku akhir-akhir ini. Mungkin ini jalan yang terbaik, setidaknya bagiku, entah baginya...
Yang pasti, aku hanya ingin dia bahagia, denganku atau tanpaku...
Aku sedang mencari makna hidup....mencoba memahami bahwa tiada yang sempurna dalam hidup ini. Aku bisa memiliki segalanya yang aku mau. Pengen baju, tinggal beli. Pengen sepatu, tinggal gesek ATM, pengen jalan-jalan kemana aja..ga ada yang melarang. Serasa aku memiliki duniaku....
Tapi aku sadari, bahwa ada hal-hal tertentu dimana aku tak bisa mengatur bahwa semua bisa berjalan sesuai kehendakku. Tak selamanya apa yang aku pikir baik untuk orang lain adalah baik juga untuknya. Meski aku bersikeras, dari cara lembut, pelan-pelan, sampai marah-marah, pun tak dapat merubah jalan pikiran seseorang.
Aku lelah...
Mungkin hanya itu yang bisa aku ungkapkan. Diantara ke-tidakpastian kelanjutan masa depan hubunganku bersamanya. Diatas keraguan yang tak berujung. Atas nama kasih yang masih melekat erat dalam hatiku untuknya, aku putuskan mengundurkan diri sejenak dari hidupnya. Hanya ingin terlepas darinya, guna merenungkan kembali arah hubungan ini. Akankah dapat ku pertahankan, sampai kapan aku harus bertahan, dan bila tidak, kemana langkah lelah ini akan ku labuhkan...???
Seminggu yang lalu, untuk terakhir kalinya...aku ketemuan sama dia. Seseorang dari masa laluku yang dulu pernah jadi bagian dalam hidupku. Tak seberapa lama aku bersua dengannya. Bagiku, tak lebih dari sekedar mmemberikan bingkisan kecil di H-1 pernikahannya. Tapi entah bagi dia... Mungkin dia masih berharap di pertemuan terakhir itu aku masih berkenan mengucapkan kata2 yang diharapkannya...
Seminggu yang lalu...dia duduk di depan penghulu, mengucapkan sebuah ikrar "saya terima nikahnya...dengan mas kawin...dibayar tunai". Sebuah ikrar atas nama Allah. Terlintas dalam pikirku, bagaimana jika namaku yang mengisi titik-titik itu. Akankah aku bahagia bersamanya...??? Akankah dia bahagia bersamaku..??? Ahh...tak taulah... Yang aku harapkan, kini dia bahagia bersama pasangan jiwanya.
Seminggu yang lalu...aku menangis tanpa tau sebabnya. Ikhlas aku lepaskan dia, tapi jauh di lubuk hati ini ada rasa terkhianati, meski aku yang lebih dulu meninggalkan dia. Entahlah...
Setangkup do'a aku panjatkan untuk nya, agar dia selalu bahagia disana dengan kehidupan barunya. Seiring dengan laju kereta yang membawaku kembali ke kotaku, aku menangis... sebuah tangisan bahagia...
Dalam senja aku termenung, melangkahkan kembali kaki-kaki kecilku yang rapuh. Tertatih, menatap hari esok yang akan menghampiriku, menghimpun secercah asa. Dan disana, seseorang telah menantiku, dengan sepasang mata teduh, sebuah pelukan hangat, kasih sayang dan perhatiannya yang seolah tiada berbatas.
And life must go on....
Terkaget-kaget rasanya ketika aku dengar kabar bahwa mantan kekasihku akan menikah senin lusa. Berbagai rasa bercampur aduk di benakku.
Senang...karena akhirnya dia telah temukan pasangan jiwanya yang dia impikan. Yah...setelah sekian lama aku mengundurkan diri dari kehidupannya, kini dia mendapatkan seseorang yang pastinya jauh lebih baik dari aku. Siapa sih aku...hanya seorang gadis yang mungkin jauh dari kata sempurna.
Sedih...kenapa baru sekarang dia cerita kalo dia akan nikah, disaat pernikahannya kurang 1 minggu lagi. Atau mungkin aku yang harus sadar diri...siapa sih aku...apa hak aku untuk tau semua hal tentang dia. Masih mending dia mau cerita sama aku...meski mendadak. Juga sedih karena di hati kecilku merasa dikhianati karena dulu dia bilang bahwa cuma aku cewek satu-satunya yang dia cintai. Huhhhh....!!!
Lelah...dengan semua rayuannya yang dia katakan kepadaku, bahwa dia masih mencintaiku, bahwa dia belum bisa mencintai calon istrinya yang baru dikenalnya 3 bulan. Hellllooooo...dia seorang pria yang pernikahannya udah di depan mata. Bisa-bisanya dia masih meng-gombali aku, yang jelas-jelas cuma mantan!!!
Muak...dengan semua sifat childish dan keras kepalanya yang tidak berubah dari dulu hingga sekarang, bahkan disaat dia akan menikah. Semua sifat yang membuatku akhirnya mundur teratur dari kehidupannya. Aku sadar, sifat keras kepalaku tidak akan mungkin bisa bersanding dengan sifatnya yg juga sama kerasnya.
Yayaya...apapun perasaan yang berkecamuk di benakku, but life must go on... Aku percaya, suatu haripun aku akan mendapatkan sekeping hati, dan yang pasti jauh lebih baik dari dia.
Terbaik dari yang terbaik...

